Download anemia defisiensi besi.pdf PDF

Titleanemia defisiensi besi.pdf
File Size220.1 KB
Total Pages6
Document Text Contents
Page 1

Artikel Penelitian

264

QAbstrak
Anemia gizi besi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat de-
ngan prevalensi pada anak 5 - 12 tahun sebesar 29% di Indonesia dan di
Kota Makassar sebesar 37,6%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
faktor determinan (status kecacingan, status seng, kebiasaan sarapan pa-
gi, pola konsumsi makanan sumber heme dan nonheme, pola konsumsi
sumber makanan pelancar dan penghambat zat besi) terhadap kejadian
anemia. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang yang di-
laksanakan pada bulan April – Juni 2014. Penelitian ini menggunakan de-
sain potong lintang yang dilaksanakan pada siswa kelas 3 - 5 SD Negeri
Cambaya Kecamatan Ujung Tanah Kota Makassar. Sampel sebanyak 120
siswa yang dipilih secara acak sederhana. Analisis data dilakukan secara
univariat, bivariat dengan uji kai kuadrat dan multivariat dengan regresi lo-
gistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor determinan kejadian anemia
adalah status kecacingan (nilai p = 0,007), kebiasaan sarapan pagi (nilai p
= 0,002), pola konsumsi makanan sumber heme (nilai p = 0,004), dan po-
la konsumsi sumber makanan penghambat zat besi (nilai p = 0,016). Hasil
analisis multivariat menunjukkan bahwa pola konsumsi makanan sumber
heme (OR = 5,09 dan 95% CI = 1,98 – 13,08) dan pola konsumsi sumber
makanan penghambat zat besi (OR = 4,53 dan 95% CI = 1,65 – 12,43)
adalah determinan utama kejadian anemia gizi.
Kata kunci: Anemia, kecacingan, makanan sumber heme, makanan peng-
hambat zat besi, pola konsumsi, kebiasan sarapan pagi

Abstract
Iron deficiacy anemia has been a public health problem with prevalence on
5 - 12 year old children worth 29% in Indonesia and 37.6% in Makassar.
This study aimed to determine the determinant factors (worm status, zinc
status, breakfast habit, consumption pattern of heme and nonheme source
of food, consumption pattern of iron enhancer and inhibitor food) toward
anemia incidence. The study used cross sectional design conducted in April
- June 2014. The population was third to fifth grade students of Cambaya

State Elementary School at Ujung Tanah District , Makassar City. Sample of
120 students were selected randomly. Data was analyzed using univariate,
bivariate with chi-square test, and multivariate with logistic regression test.
The results showed that the determinant factors of anemia incidence were
wormy status (p value = 0.007), breakfast habits (p value = 0.002), con-
sumption pattern of heme and non-heme source of food (p value = 0.004),
and consumption pattern of iron enhancer and inhibitor (p value = 0.016).
Multivariate analysis result showed that consumption pattern of heme (OR
= 5.09 and 95% CI = 1.98 - 13.08) and consumption pattern of iron en-
hancer and inhibitor food (OR = 4.53 and 95% CI = 1. 65 - 12.43) was a ma-
jor determinant of nutritional anemia.
Keywords: Anemia, wormy, heme source of food, iron inhibitor, food con-
sumption, breakfast habit

Pendahuluan
World Health Organization (WHO) dalam Worldwide

Prevalence of Anemia melaporkan bahwa total keselu-
ruhan penduduk dunia yang menderita anemia adalah
1,62 miliar orang dengan prevalensi pada anak sekolah
dasar 25,4% dan 305 juta anak sekolah di seluruh dunia
menderita anemia.1 Secara global, prevalensi anemia pa-
da anak usia sekolah menunjukkan angka yang tinggi
yaitu 37%, sedangkan di Thailand 13,4% dan di India
85,5%. Prevalensi anemia di kalangan anak-anak di Asia
mencapai 58,4%, angka ini lebih tinggi dari rata-rata di
Afrika (49,8%).2,3

Laporan Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun
2013 menunjukkan bahwa anemia gizi besi masih meru-

Korespondensi: Saifuddin Sirajuddin, Program Studi Ilmu Gizi FKM Universitas
Hasanuddin, Jl. Perintis Kemerdekaan Km.10 Tamalanrea Makassar 90245,
No.Telp: 0411-585658, e-mail:[email protected]

Kejadian Anemia pada Siswa Sekolah Dasar

Anemia Incidence among Elementary School Students

Saifuddin Sirajuddin*, Masni**

*Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, **Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanuddin

Page 2

Sirajuddin & Masni, Kejadian Anemia pada Siswa Sekolah Dasar

265

pakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia dengan
prevalensi pada anak usia 5 - 12 tahun sebesar 29% dan
di Kota Makassar sebesar 37,6%.4 Dampak anemia bagi
siswa sekolah dasar adalah dapat menyebabkan gang-
guan tumbuh kembang fisik, rendahnya daya tahan ter-
hadap penyakit, tingkat kecerdasan yang kurang dari se-
harusnya, prestasi belajar/kerja dan prestasi olahraga
yang rendah. Selain itu, anemia pada anak akan
berdampak pada menurunnya kemampuan dan konsen-
trasi belajar, mengganggu pertumbuhan baik sel tubuh
maupun sel otak sehingga menimbulkan gejala muka
tampak pucat, letih, lesu dan cepat lelah sehingga dapat
menurunkan kebugaran dan prestasi belajar.5

Anemia gizi besi dapat disebabkan oleh kurangnya
asupan makanan yang mengandung zat besi dan kon-
sumsi makanan penghambat penyerapan zat besi, serta
penyakit infeksi. Selain itu, disebabkan oleh distribusi
makanan yang tidak merata ke seluruh daerah, serta po-
la makan yang kurang beragam turut menunjang ku-
rangnya asupan zat besi bagi tubuh.6

Anemia defisiensi besi dapat juga dipengaruhi oleh
kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat mengidap
penyakit kronis, kehilangan darah karena menstruasi,
dan infeksi parasit (cacing). Di Indonesia, penyakit
kecacingan masih merupakan masalah yang besar untuk
kasus anemia defisiensi besi karena diperkirakan cacing
menghisap darah 2-100 cc setiap harinya.7

Masyarakat Indonesia masih banyak yang belum
membiasakan sarapan. Padahal dengan tidak sarapan
akan berdampak buruk terhadap proses belajar di seko-
lah, menurunkan aktivitas fisik, dan meningkatkan risiko
jajan yang tidak sehat. Melewatkan sarapan pagi menja-
di isu kesehatan masyarakat di dunia. Kebiasaan mem-
berikan anak-anak sarapan merupakan salah satu faktor
utama untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan pe-
rilaku anak di sekolah. Hanya 27,7% dari orangtua siswa
yang anaknya mengalami defisiensi besi menyadari bah-
wa sarapan dapat meningkatkan konsentrasi belajar di
sekolah, sementara 22,4% dari orangtua siswa tidak tahu
tentang pentingnya sarapan dan efeknya pada kesehatan
anak.8

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor de-
terminan kejadian anemia (status kecacingan, status
seng, kebiasaan sarapan pagi, pola konsumsi makanan
sumber heme dan nonheme, pola konsumsi sumber
makanan pelancar dan penghambat zat besi) pada anak
sekolah dasar.

Metode
Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri

(SDN) Cambaya, Kecamatan Ujung Tanah, Kota
Makassar pada bulan April – Juni tahun 2014, menggu-
nakan desain studi potong lintang. Populasi penelitian
adalah siswa Sekolah Dasar Negeri Cambaya kelas 3, 4,

dan 5 periode tahun ajaran 2014/2015 yaitu 179 siswa.
Sampel yang digunakan sebanyak 120 siswa yang dipilih
secara acak sederhana. Adapun kriteria inklusi, yaitu
berstatus sebagai siswa aktif pada periode penelitian
bersedia untuk diambil darah dan fesesnya.

Pengumpulan data dilakukan melalui serangkaian
pengukuran. Status hemoglobin (Hb) diukur dengan
menggunakan alat Blood Hemoglobin Photometer.9,10
Kriteria status Hb ditentukan berdasarkan standar yang
telah ditetapkan oleh WHO, anemia adalah Hb < 11,5
g/dL untuk usia responden antara 10 - 11 tahun dan Hb
< 12,0 untuk responden berusia 12 tahun. Tidak anemia
adalah Hb ≥ 11,5 g/dL untuk usia responden antara 10 -
11 tahun dan Hb ≥ 12,0 gr/dL untuk responden berusia
12 tahun. Status kecacingan diukur dengan menggu-
nakan metode kato katz untuk mengidentifikasi jenis
cacing secara mikroskopis (cacing gelang, cacing cam-
buk, dan cacing tambang).11 Status seng (Zn) diukur
menggunakan metode Kecap Smith, yaitu cara penguku-
ran dengan menilai tingkat ketajaman rasa yang dapat
menggambarkan apakah seseorang mengalami defisiensi
seng atau tidak. Zink sulfat akan merangsang molekul
penerima rasa pada lidah sehingga ketajaman rasa dapat
diukur.12 Kebiasaan sarapan pagi diketahui melalui
wawancara perilaku makan pagi yang dilakukan oleh
siswa secara rutin sebelum berangkat ke sekolah
(kadang-kadang (2 - 3 kali/minggu) dan sering (4 - 7
kali/minggu). Pola konsumsi makanan sumber heme
(daging sapi, daging ayam, telur, udang, hati sapi, hati
ayam, ikan segar, ikan teri, cumi-cumi, kerang, kepiting)
dan nonheme (tempe, tahu, daun kelor, daun kacang
panjang) melalui wawancara jenis makanan sumber zat
besi yang dikonsumsi oleh anak yang ditinjau dari segi je-
nis dan frekuensinya dengan menggunakan food fre-
quency questionnaire (FFQ) semi kuantitatif. Pola kon-
sumsi pelancar (wortel, sawi, jeruk, pepaya, pisang) dan
penghambat (teh, kopi, kangkung, ubi kayu) absorpsi zat
besi melalui wawancara jenis makanan yang mengan-
dung zat pelancar dan penghambat absorpsi besi yang
dikonsumsi oleh anak yang ditinjau dari segi jenis dan
frekuensinya dengan menggunakan food frequency ques-
tionnaire semi kuantitatif.

Analisis data secara univariat dilakukan terhadap se-
mua variabel penelitian. Untuk melihat hubungan vari-
abel independen dengan variabel dependen (bivariat), di-
gunakan uji kai kuadrat. Sedangkan untuk melihat va-
riabel independen yang paling berpengaruh terhadap
variabel dependen, digunakan uji regresi logistik bergan-
da.

Hasil
Siswa dengan jenis kelamin laki-laki dan kelompok

usia 10 - 11 tahun lebih banyak berpartisipasi dalam
penelitian ini (Tabel 1). Kejadian anemia lebih banyak

Page 3

Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 9, No. 3, Februari 2015

266

ditemukan pada siswa yang mengalami kecacingan
(51,6%) dibandingkan yang tidak mengalami kecacing-
an (27,6%). Status kecacingan memberikan pengaruh
yang bermakna terhadap kejadian kecacingan (nilai p =
0,007) dan hasil uji phi menunjukkan bahwa variabel
status kecacingan memberikan kontribusi sebesar 24,5%
terhadap kejadian anemia. Kebiasaan sarapan pagi dan
pola konsumsi makanan sumber heme berpengaruh se-
cara bermakna terhadap kejadian anemia (nilai p < 0,05)
dengan kontribusi masing-masing variabel adalah 28,1%
dan 26,6% (sedang). Pola konsumsi sumber makanan
penghambat zat besi juga menunjukkan pengaruh ter-
hadap kejadian anemia (nilai p=0,016), besarnya kon-
tribusi variabel pola konsumsi sumber makanan peng-
hambat zat besi terhadap kejadian anemia berdasarkan
uji phi = 22,0%, yang berarti bahwa kontribusinya lemah
(Tabel 2).

Hasil analisis multivariat menggunakan uji regresi lo-
gistik berganda menunjukkan bahwa dari lima variabel
penelitian yang disertakan dalam analisis yang menun-

jukkan nilai p < 0,25 pada analisis bivariat, terdapat em-
pat variabel yang memberikan kontribusi yang bermakna
(nilai p < 0,05), yaitu status kecacingan, kebiasaan sara-
pan pagi, pola konsumsi makanan sumber heme dan po-
la konsumsi sumber makanan penghambat zat besi.
Analisis multivariat menunjukkan bahwa siswa yang
positif kecacingan memiliki risiko 3,64 kali untuk anemia
dibandingkan siswa yang tidak cacingan, siswa yang sara-
pan paginya kadang-kadang (< 3 kali/minggu) memiliki
risiko 2,95 kali untuk anemia dibandingkan siswa yang
biasa sarapan pagi, siswa yang pola konsumsi sumber
heme-nya kadang-kadang memiliki risiko 5,09 kali diban-
dingkan siswa yang sering mengonsumsi makanan sum-
ber heme, dan siswa yang sering mengonsumsi makanan
penghambat zat besi memiliki risiko 4,53 kali diban-
dingkan siswa yang hanya kadang-kadang mengkonsum-
si makanan penghambat zat besi. Berdasarkan hasil terse-
but, terlihat bahwa variabel yang berkontribusi paling be-
sar adalah pola konsumsi makanan sumber heme (Tabel
3).

Pembahasan
Anemia pada anak tidak hanya disebabkan oleh faktor

asupan makanan, tetapi dapat juga disebabkan oleh fak-
tor infeksi yang diderita anak, salah satunya adalah in-
feksi kecacingan. Hasil penelitian menunjukkan pe-
ngaruh status kecacingan terhadap kejadian anemia pada
siswa, sebanyak 51,6% siswa yang terinfeksi cacing dan
mengalami anemia, hasil uji statistik menunjukkan ter-

Tabel 1. Distribusi Responden berdasarkan Karakteristik Anak

Karakteristik Kategori n %

Jenis kelamin Laki-laki 64 51,0
Perempuan 56 49,0

Umur (tahun) 8 - 9 35 29,2
10 - 11 72 60,0
12 - 13 13 10,8

0,001021 latoT

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Faktor yang Berpengaruh terhadap Kejadian Anemia

Anemia Normal
ihP ialiNp ialiNirogetaKlebairaV

n % n %

Status kecacingan Positif 32 51,6 30 48,4 0,007* 0,245
Negatif 16 27,6 42 72,4

260,0894,04,75936,2492 isneisifeDgnes sutatS
Normal 19 36,5 33 63,5

182,0*200,08,74232,2553 gnadak-gnadaKigap naparaS
Sering 13 24,5 40 75,5

Konsumsi sumber heme Kadang-kadang 33 52,4 30 47,6 0,004* 0,266
Sering 15 26,3 42 73,7

Konsumsi sumber nonheme Sering 10 29,4 24 70,6 0,137 0,136
Kadang-kadang 38 44,2 48 55,8

Konsumsi makanan pelancar Fe Kadang-kadang 39 42,9 52 57,1 0,258 0,103
Sering 9 31,0 20 69,0

Konsumsi makanan penghambat Fe Sering 37 48,1 40 51,9 0,016* 0,220
Kadang-kadang 11 25,6 32 74,4

Tabel 3. Analisis Multivariat Determinan Kejadian Anemia

IC%59ROp ialiNfDdlaWBlebairaV

78,8 94,146,3400,01711,8492,1 )fitisop( nagnicacek sutatS
Kebiasaan sarapan pagi (kadang-kadang) 1,082 5,702 1 0,017 2,95 1,21 7,16
Pola konsumsi makanan heme (kadang-kadang) 1,628 11,457 1 0,001 5,09 1,98 13,08
Pola konsumsi sumber makanan penghambat Fe (sering) 1,512 8,639 1 0,003 4,53 1,65 12,43

Constant -3,661 25,09 1 0,000 0,26

Page 4

267

dapat pengaruh yang bermakna dari status kecacingan
terhadap kejadian anemia pada siswa (nilai p < 0,05), na-
mun kontribusinya berdasarkan nilai phi = 0,245 adalah
lemah. Hasil ini konsisten dengan hasil analisis multi-
variat dengan uji regresi logistik yang menunjukkan nilai
OR = 3,64, yang berarti bahwa, anak yang mengalami
kecacingan berisiko menderita anemia 3,64 kali diban-
ding yang tidak kecacingan. Hal ini dapat dipahami kare-
na cacing yang masuk ke dalam mukosa usus dapat
menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada
tempat perlekatannya dapat terjadi perdarahan.
Perdarahan inilah yang menyebabkan anemia. Infeksi
rendah biasanya tidak memberikan gejala klinis yang je-
las. Penelitian lain juga menunjukkan terdapat hubungan
yang bermakna antara berat ringannya infeksi ascariasis
dengan kadar Hb. Semakin banyak telur cacing ascaria-
sis (cacing gelang) dalam tubuh penderita, semakin ren-
dah kadar Hb yang dihasilkan. Dengan kata lain beratnya
infeksi ascariasis akan menjadi salah satu penentu keja-
dian anemia pada penderita.11

Tingginya kejadian kecacingan pada anak yang men-
jadi responden penelitian ini terkait dengan faktor
lingkungan, yaitu keadaan higiene dan sanitasi lingku-
ngan tempat tinggal anak, yaitu wilayah pesisir.
Sebagaimana diketahui bahwa kebanyakan wilayah pe-
sisir adalah wilayah dengan lingkungan yang kumuh dan
padat penduduk. Selain itu, kebiasaan bermain dan peri-
laku anak- anak yang menjadi responden sangat berpe-
ngaruh dalam hal tingginya angka infestasi kecacingan di
daerah ini. Seringnya anak bermain dan berinteraksi
langsung dengan tanah, seperti tidak menggunakan alas
kaki ketika bermain dan tidak mencuci tangan setelah
bermain dan sebelum makan membuat parasit seperti
kelompok soil-transmissed helminth dengan mudah
melakukan invasi ke dalam tubuh anak-anak.

Penelitian Kharis dkk,12 menunjukkan bahwa kejadi-
an kecacingan pada siswa sekolah dasar khususnya SDN
Cempaka 1, tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu as-
pek higiene yaitu kebersihan kuku, tetapi juga dipe-
ngaruhi oleh aspek sanitasi lingkungan dan aspek higiene
perorangan lainnya, seperti kebiasaan mencuci tangan
sebelum makan, sesudah bermain dengan tanah dan sete-
lah buang air besar, dan selalu menjaga kebersihan
lingkungan. Demikian halnya dengan penelitian
Favour,13 di Nigeria yang mengungkapkan bahwa infek-
si akan lebih berat kejadiannya pada wilayah dengan
higiene dan sanitasi yang buruk.

Kebiasaan sarapan pagi merupakan faktor risiko ke-
jadian anemia gizi pada siswa sekolah dasar. Siswa yang
jarang atau kadang-kadang sarapan pagi yaitu 2 - 3 kali
dalam seminggu berisiko mengalami anemia 2,95 kali
dibanding siswa yang sering sarapan pagi. Survei Pergizi
Pangan Indonesia tahun 2010 pada 35.000 anak usia
sekolah dasar menunjukkan 44,6% anak yang sarapan

kurang dari 15% kebutuhannya.14 Hasil penelitian ini
didukung oleh penelitian Tandirerung dkk,15 bahwa ter-
dapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan sara-
pan pagi dengan kejadian anemia pada murid SD Negeri
3 Manado. Penelitian Murphy,16 menunjukkan bahwa
anak-anak yang melewatkan sarapan pagi lebih cen-
derung menunjukkan gejala anemia (defisiensi besi)
seperti pucat, lesu, dan tidak bergairah.

Penelitian lain menunjukkan bahwa siswa perempuan
yang sarapan secara teratur memiliki kadar Hb, hema-
tokrit (HCT), serum iron (SI), total iron bending capac-
ity (TIBC) dan ferritin yang lebih tinggi dibandingkan
dengan siswa yang tidak sarapan pagi dengan teratur,
meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan.17,18
Penelitian lain menunjukkan bahwa siswa yang mele-
watkan sarapan pagi memiliki prestasi belajar yang lebih
rendah dibandingkan dengan siswa yang sarapan pagi.19
Pemberian makanan yang bergizi pada anak usia sekolah
sangat penting termasuk pemberian sarapan pagi.
Kebutuhan gizi anak sekolah usia 6 – 12 tahun berkisar
antara 1.550 – 2.050 kkal. Sarapan pagi harus memenuhi
sebanyak 20 - 25% kebutuhan kalori sehari. Makan siang
dan makan malam masing-masing 30%, sedangkan
makanan selingan dapat dilakukan dua kali dengan por-
si masing-masing 10%. Sarapan pagi erat kaitannya de-
ngan kecerdasan mental, sarapan memberikan nilai posi-
tif terhadap aktivitas otak, otak menjadi lebih cerdas, pe-
ka dan lebih mudah untuk berkonsentrasi. Hal ini secara
tidak langsung akan mendatangkan pengaruh positif ter-
hadap anak sekolah dalam beraktivitas di sekolah.20

Sarapan atau kegiatan makan dan minum yang di-
lakukan sebelum jam 9 pagi dapat memenuhi 15 - 30%
kebutuhan gizi harian sebagai bagian dari gizi seimbang
untuk hidup sehat, bugar, aktif, dan cerdas. Banyak fak-
tor yang menyebabkan anak sekolah dasar tidak biasa
melakukan sarapan pagi, di antaranya adanya citra bah-
wa sarapan merupakan kegiatan yang menjengkelkan
karena perlu bangun tidur lebih pagi agar terealisasi wak-
tu untuk sarapan, pengetahuan orang tua rendah
sehingga orang tua tidak menyiapkan sarapan dan kelu-
arga tidak membiasakan sarapan. Faktor lain adalah un-
tuk menjaga penampilan fisik. Karena itu sarapan meru-
pakan salah satu perilaku penting dalam mewujudkan
gizi seimbang. Pekan sarapan nasional (PESAN) yang
diperingati setiap tanggal 14 - 20 Februari diharapkan
dapat dijadikan sebagai momentum berkala setiap tahun
untuk selalu mengingatkan dan mendorong masyarakat
agar melakukan sarapan yang sehat sebagai bagian dari
upaya mewujudkan gizi seimbang.8

Sarapan sehat setiap pagi dapat diwujudkan dengan
bangun pagi, menyiapkan dan mengonsumsi makanan
dan minuman pagi sebelum melakukan aktivitas harian.
Sarapan yang baik terdiri dari pangan karbohidrat, pa-
ngan lauk-pauk, sayuran atau buah-buahan dan minu-

Sirajuddin & Masni, Kejadian Anemia pada Siswa Sekolah Dasar

Page 5

Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 9, No. 3, Februari 2015

268

man. Bagi orang yang tidak biasa makan kudapan pagi
dan kudapan siang, porsi makanan saat sarapan sekitar
sepertiga dari total makanan sehari. Bagi orang yang bi-
asa makan kudapan pagi dan makanan kudapan siang,
jumlah porsi makanan sarapan sebaiknya seperempat
dari makanan harian.

Jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi juga tu-
rut berperan terhadap kejadian anemia. Seperti yang
ditemukan pada penelitian ini bahwa, anak dengan pola
konsumsi makanan sumber heme ≤ 3 kali/minggu
berisiko untuk mengalami anemia sebesar 5,09 diban-
dingkan anak yang mengonsumsi makanan sumber heme
> 3 kali/minggu. Menurut Kisworini,9 anemia dapat
disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi dalam
makanan, baik karena pola konsumsi makanan yang
tidak tepat, kualitas dan kuantitas makanan yang tidak
memadai, maupun karena adanya peningkatan kebu-
tuhan zat besi. Masalah utama pemanfaatan zat besi oleh
tubuh adalah rendahnya penyerapan di dalam usus.
Penyerapan zat besi dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu
absorbsi besi heme dan nonheme yang menunjukkan ke-
beradaan dua jenis zat besi yang berbeda di dalam pa-
ngan. Sumber heme pada pangan manusia adalah daging,
ikan, dan unggas, sedangkan sumber nonheme adalah se-
real, kacang-kacangan, sayur dan buah.21

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan
makanan sumber heme yang paling sering dikonsumsi
adalah ikan segar (57,5%) dengan rata-rata skor 1,16 se-
tiap hari, yang kadang-kadang dikonsumsi adalah daging
ayam (74,2%) dengan rata-rata skor 0,44 yang dikon-
sumsi 2-4 kali seminggu, sedangkan yang paling jarang
dikonsumsi adalah hati sapi (96,7%) dengan rata-rata
skor 0,03 < 1 kali sebulan. Hal tersebut karena sebagian
besar pekerjaan orang tua responden adalah nelayan
yang sebagian dari hasil tangkapan, yaitu ikan segar yang
banyak mengandung zat besi heme, selain dijual juga di-
olah di rumah untuk dikonsumsi. Konsumsi ikan teri
basah masih jarang dikonsumsi oleh responden
meskipun pada wilayah penelitian ketersediaan ikan teri
cukup banyak, namun sebagian besar responden tidak
suka mengonsumsi ikan teri. Adapun jenis bahan
makanan sumber zat besi nonheme yang paling sering
dikonsumsi adalah tempe (13,3%) dengan rata-rata skor
0,36 (2 - 4 kali dalam seminggu), dan tahu (10,8%) den-
gan rata-rata skor 0,34 (2 - 4 kali dalam seminggu).
Tempe mudah didapatkan dalam jajanan anak sekolah
pada lokasi penelitian, sebagian besar jajanan yang dibeli
di sekolah oleh anak adalah nasi kuning dengan lauk
tempe, telur, dan tahu.

Penelitian ini juga menemukan bahwa pola konsumsi
sumber makanan penghambat absorpsi zat besi
berhubungan dengan kejadian anemia, namun menun-
jukkan kontribusi yang lemah (nilai phi = 22%). Hasil
yang konsisten ditemukan pada hasil uji multivariat

menggunakan uji regresi logistik yang menunjukkan nilai
p = 0,003 dengan besar pengaruh berdasarkan nilai OR
= 4,53. Hal tersebut berarti bahwa siswa yang sering
mengonsumsi makanan penghambat absorbsi zat besi
memiliki risiko untuk terkena anemia sebesar 4,53 kali
dibandingkan siswa yang jarang/kadang-kadang
mengkonsumsi makanan tersebut. Bioavailabilitas zat be-
si dalam makanan sangat dipengaruhi oleh faktor pelan-
car dan penghambat. Selain itu, bioavailabilitas zat besi
juga terkait dengan zat besi heme dan nonheme yang
memiliki nilai bioavailabilitas yang berbeda. Penelitian
Briawan,21 menunjukkan bioavailabilitas zat besi
(miligram) secara signifikan berhubungan dengan kon-
sumsi daging sapi dan ayam (r = 0,381) dan asupan vita-
min C (r = 0,340) (nilai p < 0,05), namun, bioavailabili-
tas zat besi tidak berhubungan dengan asupan zat besi
dan asupan protein (nilai p > 0,05).

Jenis bahan makanan penghambat absorbsi zat besi
yang paling sering dikonsumsi siswa adalah teh (50,8%)
dengan skor rata-rata 0,83 artinya dikonsumsi 5 – 6 kali
dalam seminggu, sedangkan yang paling jarang dikon-
sumsi adalah daun singkong (94,2%). Jenis teh yang
sering dikonsumsi oleh responden adalah minuman teh
gelas, merupakan pangan jajanan yang saat ini sangat di-
gemari oleh anak-anak serta masyarakat karena mudah
didapatkan dengan harga relatif murah. Jenis makanan
sumber penghambat absorbsi zat besi yang lain sangat
jarang dikonsumsi karena kesukaan responden terhadap
jenis makanan tersebut adalah susu. Meskipun susu
dikategorikan sering dikonsumsi, namun frekuensi kon-
sumsinya hanya sekitar 2 - 4 kali/minggu sehingga dapat
disimpulkan anak sekolah dasar lebih gemar mengon-
sumsi teh dibandingkan susu.

Pola konsumsi sumber makanan pelancar penyerapan
zat besi menurut hasil penelitian ini menunjukkan hasil
yang tidak berpengaruh secara bermakna terhadap keja-
dian anemia (nilai p > 0,05). Jenis bahan makanan pelan-
car absorbsi zat besi yang paling sering dikonsumsi
adalah pisang (12,5%) dengan nilai skor rata-rata 0,37
(dikonsumsi satu kali per minggu), berdasarkan kriteria
pola konsumsi frekuensi konsumsi pisang belum
dikatakan sering, sedangkan yang paling jarang dikon-
sumsi adalah jambu biji dan labu kuning (84,2%). Tidak
ada makanan yang dikonsumsi responden satu kali per
hari. Meskipun bahan makanan absorbsi zat besi yang ra-
ta-rata bersumber dari sayur dan buah mudah didap-
atkan, konsumsi responden masih jarang karena respon-
den lebih senang mengonsumsi makanan jajanan instan
yang dijual di sekolah dan sekitar tempat tinggal dengan
harga yang relatif murah dan disukai oleh anak-anak.
Penelitian Briawan dkk,21 menunjukkan bahwa kadar Hb
tidak berhubungan dengan asupan zat besi, bioavailabi-
litas zat besi dan asupan protein (nilai p > 0,05), dengan
estimasi bioavailabilitas zat besi sebesar 1,09 miligram

Similer Documents