Download Artikel Jurnal Anemia Gravis Rev PDF

TitleArtikel Jurnal Anemia Gravis Rev
File Size438.2 KB
Total Pages28
Document Text Contents
Page 2

2


2. Prevalensi anemia

Menurut Organisasi Kesehatan dunia (WHO), tahun 2005 didapati

1.62 milyar penderita anemia di seluruh dunia. Angka prevalensi anemia di

Indonesia menurut Husaini dkk (2008) terdapat dalam tabel berikut.

Tabel 1. Pravalensi anemia di Indonesia

Kelompok Populasi Angka Pravalensi

Anak prasekolah (balita) 30-40%

Anak usia sekolah 23-35%

Wanita dewasa 30-40%

Wanita hamil 50-70%

Laki-laki dewasa 20-30%

Pekerja berpenghasilan rendah 30-40%

Sumber. Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem

Hematologi



Pravalensi anemia gravis tertinggi terdapat pada ibu hamil yaitu

sebanyak 50-70% dan yang paling rendah yaitu pada laki-laki dewasa

sebanyak 20-30%. Anemia lebih sering ditemukan pada masa kehamilan

karena selama masa kehamilan keperluan zat-zat gizi bertambah dan adanya

perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang (Price et al, 1995

dalam Wulansari, 2006).

Angka pravalensi anemia di dunia sangat bervariasi tergantung pada

geografi. Salah satu faktor determinan utama adalah taraf sosial ekonomi

masyarakat. Sedangkan prevalensi anemia gravis sendiri menurut WHO

mencapai angka lebih dari 40% dalam satu populasi (WHO, 2006).

B. Fisiologi Eritrosit

Eritrosit (sel darah merah) dihasilkan pertama kali di dalam kantong

kuning saat embrio pada minggu-minggu pertama. Proses pembentukan eritrosit

disebut eritropoesis. Setelah beberapa bulan kemudian, eritrosit terbentuk di

dalam hati, limfa, dan kelenjar sumsum tulang. Produksi eritrosit ini dirangsang

Page 14

14


terhambat sehingga akan terjadi defisiensi besi. Di samping itu makanan

yang tinggi protein terutama yang berasal dari hewani banyak

mengandung zat besi. (Gallagher ML, 2008)

b. Vitamin A

Suplementasi vitamin A dapat membantu mobilisasi zat besi dari

tempat penyimpanan untuk proses eritropoesis di mana disebutkan

suplementasi vitamin A sebanyak 200.000 UI dan 60 mg ferrous sulfate

selama 12 minggu dapat meningkatkan rata – rata kadar hemoglobin

sebanyak 7 g/L dan menurunkan prevalensi anemia dari 54% menjadi

38%. (Zimmermann MB et.al, 2011)

Vitamin A merupakan vitamin larut lemak yang dapat membantu

absorpsi dan mobilisasi zat besi untuk pembentukan eritrosit. Rendahnya

status vitamin A akan membuat simpanan besi tidak dapat dimanfaatkan

untuk proses eritropoesis. Selain itu, Vitamin A dan β-karoten akan

membentuk suatu kompeks dengan besi untuk membuat besi tetap larut

dalam lumen usus sehingga absorbsi besi dapat terbantu. Apabila asupan

vitamin A diberikan dalam jumlah cukup, akan terjadi penurunan derajat

infeksi yang selanjutnya akan membuat sintesis RBP dan transferin

kembali normal. Kondisi seperti ini mengakibatkan besi yang terjebak di

tempat penyimpanan dapat dimobilisasi untuk proses eritropoesis

(Subagio HW, 2008).

Sumber vitamin A dalam makanan sebagian besar dari sumber-

sumber makanan nabati dan hewani, misalnya sumber hewani diantaranya

susu dan produk susu, telur serta ikan dll, sumber makanan nebati seperti

papaya, mangga, serta jeruk dan sayuran seperti wortel. (Michael J et al,

2008)

c. Vitamin C

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada keterkaitan

antara asupan vitamin C dengan kejadian anemia di mana korelasinya

Similer Documents