Download Ilmu Ilal Hadis PDF

TitleIlmu Ilal Hadis
File Size205.1 KB
Total Pages15
Document Text Contents
Page 1

Selayang Pandang Ilmu ‘Ilal Hadis

Muhamad Ridwan Nurrohman

Pendahuluan

Ketika seseorang sedang mengalami penyakit luar, misalnya sakit mata atau paling jauh

sakit kepala dan sakit perut, kebanyakan orang akan mengetahui bahwa orang itu sedang sakit,

meskipun ia bukanlah seorang dokter ahli. Tetapi ketika seseorang itu sedang sakit jiwa atau

sekurang-kurangnya diabetes fase awal, siapa yang tahu kalau memang dia itu berpenyakit?

Mungkin hanya orang-orang tertentulah yang bisa mengetahuinya, itupun mestilah melewati

beberapa tes terlebih dahulu.

Nah, itulah sedikit gambaran yang “sangat jauh” dari masalah yang akan kita bahas pada

kali ini. Ilmu ‘ilal hadis bukanlah ilmu yang bisa dicapai oleh sembarang orang. Hanya

manusia-manusia terpilihlah yang dapat mengetahui ‘ilal hadis ini. Bila kasus tentang

“penyakit dalam” yang penulis sajikan di atas saja sudah mengharuskan si peneliti itu benar-

benar orang yang ahli dibidangnya, apalagi terhadap hadis. Yang jelas sangatlah jauh berbeda

dengan gambaran kasus di atas.

Hadis pada masa sekarang telah menjadi hal yang amat-sangat membutuhkan pondasi

keimanan untuk meyakininya. Karena memang secara indrawi memang tidak bisa diteliti lagi,

kecuali berpangkal pada kepercayaan pada otoritas dan kejujuran para ulama ahli hadis.

Terlebih bila kita berbicara tentang ‘ilal hadis, suatu ilmu yang tidak bisa begitu saja

didapatkan melalui penelitian “ilmiah”, bahkan ada Ulama yang mengatakan bahwa ilmu

tentang hal ini hanya bisa didapatkan melalui ilham. Sehingga ada yang memvonis bahwa ilmu

ini bukanlah sebuah metode ilmiah. Toh, yang bisa mengetahuinya juga bukan “manusia

biasa”, tidak semua orang bisa mendapatkan ilham? Benarkah demikian? Nah, dalam tulisan

singkat inilah penulis ingin mencoba memaparkan sebuah selayang pandang mengenai ilmu

‘ilal hadis, dan bagaimana posisinya dalam penelitian ilmiah.

Kitab yang bisa dijadikan rujukan dalam penelitian dalam masalah ini sebenarnya cukup

memadai, bila yang menelitinya memang mempunyai ilmu yang luas dan mendalam, namun

mungkin bagi penulis yang masih thuwailib ini teramatlah sangat sulit. Namun sekuat tenaga

akan penulis paparkan sesuai kadar keilmuan yang telah penulis temukan dalam khazanah

keilmuan turats maupun kontemporer mengenai masalah ini. Diantara kitab dan buku yang

memberikan informasi-informasi penting mengenai hal ini kepada penulis adalah Mahfudz al-

Rahman al-Salafiy dalam muqaddimah kitab Al-‘Ilal al-Waridah fi al-Ahadis al-Nabawiyah

karya Abu al-Hasan al-Daruquthniy dan kitab Ulum al-Hadis karya Imam Abu Amr Usman bin

Selayang Pandang Ilmu I’lal Hadis | 1

Page 8

Rawi-rawi yang ada dalam sanad nomor 1 adalah para rawi yang berdomisili di Madinah.

Jika mereka meriwayatkan dari rawi-rawi yang berdomisili di Kuffah maka mereka banyak

membuat kekeliruan. Menurut rawi-rawi yang tsiqat, hadis ini sebenarnya diriwayatkan oleh

Abu Burdah dari sahabat al-Aghar al-Muzanim bukan dari Abu Musa al-Asy’ari. Di sisi lain

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Sa’id, Hammad

bin Zaid, Tsabit, Abu Burdah dan al-Aghar al-Muzani dari Rasulullah Saw. (sanad nomor 2).

Dengan demikian, hadis Musa bin ‘Uqbah ini syadz pada sanad-nya (sanad nomor 1) karena ia

berlainan dengan sanad yang lebih tsiqat. Sedangkan hadis riwayat Muslim rawi-rawinya lebih

tsiqat dan mahfuzh.

4. Hadis yang diriwayatkan seorang sahabat secara mahfuzh, tetapi hadis itu diriwayatkan

juga dari seorang tabi’inn yang diduga shahih. Misalnya hadis yang diriwayatkan oleh

al-‘Askari yang bersanad Zuhair bin Muhammad, ‘Utsman bin Sulaiman dari ayahnya

yang mengatakan:

- ِبالّطوِر - اْلَمْغِرِب ِفى َيْقَرُأ وسلم عليه ال صلى الّنِبّى َسِمَع َأّنُه

Hadis yang diriwayatkan oleh al-‘Askari tersebut ma’lul karena al-‘Askari menyangka

bahwa ‘Utsman bin Sulaiman menerima hadis itu dari Sulaiman (ayahnya ‘Utsman). Padahal

‘Utsman tidak pernah menerima hadis itu dari Nabi saw, bahkan iapun tidak pernah bertemu

dengan Nabi Saw. karena ia adalah seorang tabi’in. Sebenarnya ‘Utsman menerima menerima

hadis tersebut dari Nafi’ dan Nafi’ menerima dari ayahnya, yaitu Jubair bin Muth’im. Menurut

para ulama hadis, sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut adalah Jubair bin Muth’im.

Berikut adalah sanad-sanad yang meriwayatkan hadis Jubair bin Muth’im:

1) Bukhari; beliau meriwayatkan dari Abdullah bin Yunus, Malik, Ibnu Syihab,

Muhammad bin Jubair dan Jubair bin Muth’im.

2) Muslim; beliau meriwayatkan dari Yahya bin Yahya, Malik, Ibnu Syihab,

Muhammad bin Jubair dan Jubair bin Muth’im.

3) Abu Dawud; beliau meriwayatkan dari al-Qa’nabi, Malik, Ibnu Syihab,

Muhammad bin Jubair dan Jubair bin Muth’im.

4) An-Nasa`i; beliau meriwayatkan dari Qutaibah, Malik, Ibnu Syihab, Muhammad

bin Jubair dan Jubair bin Muth’im.

5) Ibnu Majah; beliau meriwayatkan dari Muhammad bin ash-Shabah, Malik, Ibnu

Syihab, Muhammad bin Jubair dan Jubair bin Muth’im.

Selayang Pandang Ilmu I’lal Hadis | 8

Similer Documents