Download Jurnal Maroso Juni 2016 Volume VII No. 1 PDF

TitleJurnal Maroso Juni 2016 Volume VII No. 1
File Size7.2 MB
Total Pages91
Document Text Contents
Page 45

MAROSO Edisi Juni 2016 No. 1

45

Perkuatan dinding lemah akibat
ketiadaan atau akibat kurang
memadainya rangka perkuatan kolom
praktis – latei/lintel pada bukaan-bukaan
(pintu dan jendela).
Salah satu faktor yang berkontribusi pada
keretakan adalah pelemahan dinding akibat
tidak digunakannya kolom pengaku (kolom
tulangan praktis) dan balok latei (lintel/latio
beam) secara memadai untuk luasan bidang,
A = 7.5 x 4.0 = 30.0 m

2
. Untuk dinding yang

dibangun pada zona gempa 3 – 6, luasan
maksimum bidang dinding yang harus
diperkuat pengaku dari kolom praktis dan
balok lintel adalah 6.0 m

2
, dan secara umum

bidang dinding harus diperkuat pengaku
kolom praktis dan balok lintel minimal untuk
luasan > 12.0 m

2
. Ketiadaan balok lintel dan

kolom praktis sebagai pengaku dinding
berkontribusi dalam panjang penjalaran
vertikal retak beton. Pemasangan balok lintel
dan kolom praktis secara memadai
sangat penting dalam mencegah tidak
hanya

Gambar 19. Dinding pembatas ruangan sisi Timur Ruang Panitera Pengganti. Garis
merah putus-putus menyatakan zona retak vertikal ireguler.

L = 7.5 m

h = 4.0 m

Gbr. 18. Hubungan susut pengeringan
(drying shrinkage) menurut berbagai standar teknik

Gbr. 17. Karakteristik susut pengeringan (drying
shrinkage) pada plesteran/acian tembok bata

Page 46

MAROSO Edisi Juni 2016 No. 1

46

IV. KESIMPULAN

1. Keretakan dinding bata pada 27 titik pada

konstruksi bangunan gedung Kantor PN Klas

1B Poso sangat berkaitan dengan struktur

pendukung atau penyokong bangunan yaitu

sistem balok-pelat lantai monolitik.

2. Pola-pola keretakan dinding berhubungan

dengan mekanisme gaya tarik (tensile force)

dan tarik-lentur (flexural-tensile force).

3. Faktor Fundamental dalam keretakan dinding

adalah terlampauinya kapasitas tegangan

tarik-langsung (direct tensile-strength) dan

tegangan tarik-lentur (flexural tensile-

strength) dinding bata (spesi mortar maupun

batu bata) dalam memikul aksi beban luar

berupa tegangan tekan, aksi tarikan dan

kombinasi aksi tarikan-lenturan.

4. Penyebab Utama keretakan dinding ada tiga,

yaitu:

- Defleksi beton pelat lantai-balok monolit

pendukung dinding akibat proses rangkak

(creep);

- Transfer beban mati dari berat balok ring-

pelat monolitik atas dinding, dan,

- Deformasi elastik sistem balok-pelat lantai

akibat peningkatan beban mati lantai.

5. Penyebab Minor dalam keretakan dinding

adalah susut volume atau susut pengeringan

(shrinkage) spesi semen atau mortar.

6. Faktor Kontributif yang sangat fundamental

dalam keretakan dinding adalah perkuatan

dinding lemah akibat ketiadaan atau akibat

kurang memadainya rangka perkuatan kolom

praktis – latei/lintel pada bukaan-bukaan

(pintu dan jendela), dan distorsi dalam

standar pekerjaan beton.

7. Penyebab poin 6 adalah ketidaklengkapan

atau tidak tersedianya gambar desain dan

detail konfigurasi penulangan dari konsultan

perencana.

V. REKOMENDASI:

1. Untuk menjamin keamanan dan keselamatan
struktur selama umur rencana pemakaian 25
tahun maka harus dilakukan perkuatan
(retrofitting) dinding susunan batu bata yang
mengalami retak-retak dengan menggunakan
kolom tulangan praktis dan balok latei/latio.

2. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya
keretakan dinding atau komponen struktural
lainnya pada tahapan pembangunan
berikutnya, kontraktor pelaksana dan
konsultan harus meningkatkan mutu proses
pembuatan beton melalui perbaikan suplai
agregat kasar split (kricak), agregat halus
(pasir), kontrol faktor air semen, pemakaian
mesin getar (vibrator) dan kontrol proses
penuangan/pemadatan.

Gambar 20. Skematik penempatan ringbalk, kolom praktis dan balok latei (lintel, latio) untuk perkuatan
bidang dinding

Balok LateiBalok Ring

Page 90

MAROSO Edisi Juni 2016 No. 1

90

IV. KESIMPULAN, PERKIRAAN
DERAJAT KERUSAKAN, ANGKA

KEANDALAN DAN REKOMENDASI

KESIMPULAN:
1. Komponen-komponen Blok Bangunan Rumah

Dokter Puskesmas Tentena memiliki tingkat
kerusakan yang bervariasi, namun secara umum
fungsi bangunan berada dalam kondisi rusak
berat, kecuali komponen lantai (rusak ringan
20%), dan bangunan secara keseluruhan
memerlukan rehabilitasi sedang s.d. rehabilitasi
berat hingga 49.30%. Secara keandalan struktural
dan pemenuhan syarat keselamatan bangunan
(aspek ketahanan gempa dan proteksi kebakaran),
komponen-komponen fisik blok rumah dokter
puskesmas tentena ini berada dalam kategori
tidak andal, dengan sisa angka keandalan 50.70%.

2. Ketidakfungsionalan dan ketidakandalan
komponen-komponen fisik blok Rumah Dokter
Puskesmas Tentena terutama disebabkan oleh
penurunan kualitas material bangunan selama
masa pemakaian atau usia bangunan, penurunan
kualitas material akibat dekomposisi bahan yang
dipengaruhi oleh tingkat kelembaban yang relatif
tinggi.

3. Apabila bangunan direhabilitasi berat pada taraf
50% maka prioritas perbaikan komponen terdapat
pada: rangka struktur, dinding bata ½ batu, lapis
penutup dan rangka kuda-kuda, kusen pintu dan
jendela, lapis dan rangka penutup plafon dan
lisplank, lapis finishing.

4. Apabila blok bangunan Rumah Dokter Puskesmas
Tentena ini dapat disetujui untuk penghapusan
aset maka proses perencanaan atau desain
terutama harus memperhatikan dan menerapkan
kriteria struktural dan keamanan untuk bangunan
kantor pemerintah (proteksi gempa dan
kebakaran), yaitu SNI-03-1726-2002, SNI-03-
2487-2002, SNI-03-1726-2000.

DERAJAT KERUSAKAN:
Secara fungsional, derajat kerusakan bangunan sebesar
49.30% atau rusak berat minor (limit bawah).

ANGKA KEANDALAN:
Secara struktural (lihat tabel penilaian keandalan
komponen), blok Rumah Dokter Puskesmas Tentena
ini termasuk kategori tidak andal dengan perkiraan sisa
angka keandalan bangunan sebesar 50.70%.

REKOMENDASI:
Direkomendasikan untuk rekonstruksi (pembangunan
baru) Rumah Dokter Puskesmas Tentena.

REFERENSI

[1] Undang-undang no. 28 tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung;

[2] Undang-undang no. 26 tahun 2007 tentang Penataan
Ruang;

[3] PP no. 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-undang no. 28 tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung;

[4] Permen PU no. 45 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara;

[5] Permen PU no. 6 tahun 2007 tentang Pedoman Umum
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)

[6] Permen PU no. 25 tahun 2008 tentang Pedoman Teknis
Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran
(RISPK);

[7] Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987 ...
Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan
Gedung (SKBI-1.3.5.3-1987);

[8] Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung (SNI-03-1726-2002)

Page 91

MAROSO Edisi Juni 2016 No. 1

91

Similer Documents