Download Kejang Demam Neurology 2012 PDF

TitleKejang Demam Neurology 2012
File Size331.4 KB
Total Pages23
Document Text Contents
Page 1

i

Konsensus
Penatalaksanaan
Kejang Demam

Unit Kerja Koordinasi Neurologi
Ikatan Dokter Anak Indonesia 2006

Penyunting
Hardiono D Pusponegoro
Dwi Putro Widodo
Sofyan Ismael

Page 2

ii

Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak, mencetak dan menerbitkan
sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara
dan dalam bentuk apapun tanpa seizin penerbit

Cetakan pertama tahun 2005
Cetakan ke dua tahun 2006
Penerbit: Badan Penerbit IDAI
ISBN 979-8421-23-X

Page 11

3UKK Neurologi

Berg AT, Shinnar S. Complex febrile seizure.
Epilepsia 1996; 37:126-33.

Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum
yang didahului kejang parsial.

Annegers JF, Hauser W, Shirts SB, Kurland LT. Factors prog-
nostic of unprovoked seizures after febrile convulsions. NEJM

1987; 316:493-8.

Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, di
antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi
pada 16% di antara anak yang mengalami kejang demam.

Shinnar S. Febrile seizures Dalam: Swaiman KS, Ashwal S,
eds. Pediatric Neurology principles and practice.

St Lois: Mosby 1999. h. 676-82.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada
kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi
sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya
gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan labora-
torium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit
dan gula darah (level II-2 dan level III, rekomendasi D).

Gerber dan Berliner. The child with a simple febrile seizure. Ap-
propriate diagnostic evaluation.

Arch Dis Child 1981; 135:431-3.

simple febrile seizures.
Pediatr 1996; 97:769-95.

Pungsi lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk me-

Page 12

4 Konsensus Kejang Demam

negakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis.
Risiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0,6%-6,7%.

Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan atau meny-
ingkirkan diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya
tidak jelas. Oleh karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada:

1. Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan dilaku-
kan

2. Bayi antara 12-18 bulan dianjurkan

3. Bayi > 18 bulan tidak rutin

Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan
pungsi lumbal.

AAP, The neurodiagnostic evaluation of the child
with a first simple febrile seizures.

Pediatr 1996;97:769-95

Baumer JH. Evidence based guideline for post-seizure manage-
ment in children presenting acutely to secondary care. Arch Dis

Child 2004; 89:278-280.

Elektroensefalografi

prediksi berulangnya kejang, atau memperkirakan ke-
mungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh
karenanya tidak direkomendasikan (level II-2, rekomendasi
E).

AAP, The neurodiagnostic evaluation of the child with a first
simple febrile seizures.

Pediatr 1996; 97:769-95.

Millichap JG. Management of febrile seizures: current concepts
and recommendations for Phenobarbital and electroencephalo-

gram. Clin Electroencephalogr 1991; 22:5-10.

Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang
demam yang tidak khas. Misalnya: kejang demam kompleks

Page 22

14 Konsensus Kejang Demam

Dianjurkan untuk memberikan diazepam oral atau rektal bila
anak demam, terutama setelah vaksinasi DPT atau MMR.
Beberapa dokter anak merekomendasikan parasetamol pada
saat vaksinasi hingga 3 hari kemudian.

Fukuyama Y, dkk. Practical guidelaines for physician in the
management of febrile seizures.

Brain Dev 1996;18: 479-484.

Zempsky WT. Pediatrics, febrile seizures.
Http://www.emedicine.com/emerg/topic 376.htm.

Page 23

15UKK Neurologi

Tingkat evidens

I. Evidens yang didapat dari minimal satu randomized
controlled trials.

II-1. Evidens yang didapat dari non-randomized controlled
trials.

II-2. Evidens yang didapat dari penelitian cohort atau case
control, terutama yang diperoleh lebih dari satu pusat
atau kelompok penelitian.

II-3. Evidens yang diperoleh dari perbandingan tempat atau
waktu dengan atau tanpa intervensi. Contoh: uji yang
tidak terkontrol yang menghasilkan hasil yang cukup
mengejutkan seperti hasil pengobatan dengan penicil-
lin pada tahun 1940 dapat dimasukkan dalam kategori
ini.

III. Konsensus, penelitian deskriptif, pengamalan klinis.

Kualitas rekomendasi

A. Terdapat fakta yang bagus kualitasnya (good) untuk
mendukung rekomendasi bahwa intervensi tersebut dapat
diterapkan.

B. Terdapat fakta yang cukup berkualitas (fair) untuk mendukung
rekomendasi bahwa intervensi tersebut dapat diterapkan.

C. Terdapat fakta yang tidak berkualitas (poor) dalam hal nilai
atau harm dari intervensi, rekomendasi dapat dilakukan
pada bidang lain.

D. Terdapat fakta cukup berkualitas (fair) untuk mendukung
rekomendasi bahwa intervensi tersebut tidak dapat diter-
apkan.

E. Terdapat fakta yang bagus kualitasnya (good) untuk
mendukung rekomendasi bahwa intervensi tersebut tidak
dapat diterapkan.

Schet et al. BMJ, 1996;312:71-2

The Canadian Task Force on Periodic Health Examination
(1994).

Lampiran

Similer Documents