Download TRADISI PERNIKAHAN KATOLIK PDF

TitleTRADISI PERNIKAHAN KATOLIK
File Size302.3 KB
Total Pages6
Document Text Contents
Page 2

http://alipsuwito.multiply.com/journal/item/2/Sakramen-Perkawinan-dan-Teologinya?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
http://alipsuwito.multiply.com/journal/item/2/Sakramen-Perkawinan-dan-Teologinya?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Page 4

2. Arti, Hakikat, Tujuan, dan Sifat-Sifat Perkawinan
http://gayamsari.multiply.com/journal

a) Arti dan hakikat perkawinan secara umum
Tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan. Untuk mencapainya,

manusia menempuh beberapa cara: pertama, dengan hidup selibat-membiara (sebagai biarawan-
biarawati); kedua, memenuhi panggilan hidup sebagai awam yang menikah atau awam yang hidup
selibat secara sukarela. Sebagai pilihan hidup, perkawinan dilindungi oleh hukum.

Dalam arti umum, perkawinan pada hakikatnya adalah persekutuan hidup antara pria dan wanita,
atau dasar saling mencintai untuk membentuk hidup bersama secara tetap dan memiliki tujuan yang
sama, yaitu saling membahagiakan. Tujuan mereka membentuk persekutuan hidup ini adalah untuk
mencapai kebahagiaan dan melanjutkan keturunan. Oleh karena itu, dalam agama atau kultur tertentu,
apabila perkawinan tidak dapat mendatangkan keturunan, seorang suami dapat mengambil wanita lain
dan menjadikan dia sebagai istri agar dapat memberi keturunan.

b) Tujuan dan sifat dasar perkawinan

 Saling membahagiakan dan mencapai kesejahteraan suami-istri (segi unitij). Kedua pihak
memiliki tanggung jawab dan memberi kontribusi untuk mewujudkan kesejahteraan dan
kebahagiaan suami-istri.

 Terarah pada keturunan (segi prokreatij). Kesatuan sebagai pasutri dianugerahi rahmat
kesuburan untuk memperoleh buah cinta berupa keturunan manusia-manusia baru yang akan
menjadi mahkota perkawinan. Anak yang dipercayakan Tuhan harus dicintai, dirawat,
dipelihara, dilindungi, dididik secara Katolik. Ini semua merupakan tugas dan kewajiban pasutri
yang secara kodrati keluar dari hakikat perkawinan.

 Menghindari perzinaan dan penyimpangan seksual. Perkawinan dimaksudkan juga sebagai
sarana mengekspresikan cinta kasih dan hasrat seksual kodrati manusia. Dengan perkawinan,
dapat dicegah kedosaan karena perzinaan atau penyimpangan hidup seksual. Dengan
perkawinan, setiap manusia diarahkan pada pasangan sah yang dipilih dan dicintai dengan
bebas sebagai teman hidup. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Paulus, "Tetapi,
kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin
daripada hangus karena nafsu" (lKor 7:9).

 Catatan penting: dalam perkawinan Katolik, kemandulan, baik salah satu maupun kedua
pasangan, tidak membatalkan perkawinan, dan tidak menjadi alasan untuk meninggalkan
pasangan kemudian mencari wanita lain sebagai penggantinya. Anak adalah buah kasih dan
rahmat Allah melulu.



http://gayamsari.multiply.com/journal

Similer Documents